sipping dew

sipping dew in a wine glass.
looking at the lady in the glass window distilling last night’s rain drops.
there’s frost in the shadows of (my) thoughts.
but we’re in a hot country where sweat leaks from the folds of our flesh.
the sun rises and sets sooner than memories
of father, mother, all still children
raising children older than
their confused love
go.

muda

perempuan muda kesulitan tidur
perkara
kukunya
terlalu
panjang

sebuah hotel di seney, michigan
terbakar
saat
badai
besar

sebuah metro di st petersburg
meledak
terkena
bom

pagi
pagi
orang
orang
mati

teror di dalam layar
apa
yang
perlu
dibaca

hidup manusia tersimpan
di dalam
grup
grup
perbincangan

perempuan itu tak suka air
tapi
ia
ingin
berlayar

membawa semua kertas yang dimilikinya
membakarnya
menyebarkannya
ke permukaan lautan
berombak
setinggi
gedung

perempuan muda
apakah
ia
akan
kembali

 

terinspirasi oleh “Along with Youth” karya Ernest M. Hemingway

Selamat Hari Puisi Sedunia 2017!

“Puisi memiliki beragam arti bagi saya. Pertama-tama, ia merupakan saluran bagi saya untuk mengekspresikan sehingga kemudian bisa mencoba mengerti apa yang saya rasakan tentang diri saya sendiri maupun problem yang terjadi pada dan di sekitar saya. Selain itu, ia juga merupakan salah satu karya seni dengan sejarah dan tradisi panjang sehingga lewat puisi kita bisa mempelajari ragam pemikiran, sikap, tindakan, pergulatan, kegagalan, kemenangan yang sudah mewarnai kehidupan manusia sebagai pribadi sekaligus bagian dari makhluk yang tinggal di bumi. Oleh karena itu, saya berharap siapa saja yang ingin menulis puisi mengingat siapa saja yang sudah menulis sebelum dirinya dan gagasan apa yang sudah mereka perjuangkan. Pada akhirnya, saya berharap puisi dapat diakses dan dinikmati oleh siapa saja serta menjadi bagian yang berarti bagi hidup kita semua. Selamat #HariPuisiSedunia!”

that’s me being oh so serious on this #worldpoetryday. check out what Danar Pramesti Mikael Johani Tere Suganda Harlan Boer Maria Ferrari have got to say in this article.

now, what does poetry mean to you?

belajar berenang

aku ingin belajar berenang supaya bisa berenang di labuan cermin. menyelam meluncur meliuk menciptakan pusaran air seperti putri duyung. lalu muncul ke permukaan dengan rambut yang rapi seperti baru saja disisir ke belakang, sinar matahari jatuh mencium wajahku membuatnya mengkilap dan aku tersenyum lebar menunjukkan gigi gigiku yang seperti mutiara. tiba tiba aku ingin tertawa dan memang aku tertawa tergelak gelak. memantul mantul di riak riak danau, menjalar ke dahan dahan pohon yang daun daunnya berayun, kemudian melenting, hinggap di cuping telingaku. aku pun kembali diam. berpandang pandangan dengan seorang perempuan yang giginya tanggal dua, wajahnya bolong bolong, rambutnya rontok setiap kali disisir. ia menyentuh cermin itu dengan ujung jari jarinya, menundukkan kepala dan menyadari ekor putri duyung tidak pernah ada. ia membenamkan diri dengan gerakan yang berat dan lambat. aku tak berhenti melambaikan tangan sampai buaya itu sepenuhnya hilang ditelan air. ujung ekornya yang berundak undak seakan akan membalas lambaianku. buaya biasanya memeluk lalu menggulung mangsanya. mungkin ada baiknya aku belum belajar berenang. mari pulang saja ke biduk biduk.

terinspirasi oleh perjalanan Astry Herning Tias

jalan sabang bising

siang ini, suara suara di jalan sabang terdengar sedikit terlalu bising. lift yang hanya mampu mengangkut tiga orang juga harus mendongeng. ia bisa mati kapan saja, mungkin sulit untuk hidup kembali. di antara makan siang pun ada tangga rahasia yang jadi tempat tinggal kucing. jangan sentuh pegangannya, tak ada yang tahu siapa lagi yang pernah ke sana. mungkin sudah jadi perkampungan peri peri bakteri yang tak kelihatan. karena di pinggir jalan ada perempuan yang menutup hidungnya di depan seven eleven. agak kurang sopan menurutku karena tak ada bau. tapi aku tak bisa lagi mencium bau. dan di pinggir jalan pula ada laki-laki yang mengencingi pagar seng. sangat tidak sopan menurutku karena aku bisa melihatnya, walaupun bis bis dari garut yang bersiap siap menuju istiqlal parkir berderet deret di belakangnya. teman temannya tertawa melihat kami lewat, sementara di lantai dua saudagar kopi ada diskusi mengenai politik identitas. dadaku nyeri memuat sejarah yang sepotong-sepotong. memotong-motong hidup yang selalu berakhir. menit yang lalu sudah bisa dilupakan atau dijadikan kenangan. mengubur milyaran menit terdahulu yang ingin kugali dan rangkai sehingga menjadi sesuatu yang bisa kunamakan asal usulku. banyak yang tidak kumengerti, banyak yang kukira kumengerti. tapi perasaanku mengatakan hari ini bukan saatnya. apa pun itu sudah keburu terlindas kendaraan kendaraan yang lalu lalang. la la la lu la la lang. dan kita hidup bahagia selama kita bisa.

jaemanis di istiqlal