BuMa di Jalur Rempah

Komunitas BungaMatahari

halo teman-teman, punya puisi tentang rempah, makanan, atau memasak?

bawa yuk ke museum nasional (museum gajah), sabtu 24 oktober 2015, jam 16-17 untuk dibacakan di pameran “jalur rempah: the untold story”.

mau baca puisi sendiri atau puisi orang lain bebas, mau nongkrong-nongkrong saja juga hayuk.

maaf jika pengumumannya mendadak, karena undangannya juga mendadak. 😊

atau, kalau kamu memang nggak bisa hadir, kirimkan saja puisi-puisimu yang sesuai dengan tema rempah/makanan/memasak tadi ke komunitasbungamatahari@gmail.com. siapa tahu bisa dibacakan teman-teman yang datang.

yuk ramaikan!

p.s. biji bunga matahari termasuk rempah juga nggak ya? 🌻🍴

jalur rempah for buma socmed

View original post

Kangen KebunKata | 15 Tahun Komunitas BungaMatahari | 25 April 2015

Komunitas BungaMatahari

Hai teman-teman BuMa,

Bulan ini, tepatnya tanggal 19 April, BuMa berulang tahun ke-15. Komunitas ini pertama kali muncul berkat “teknologi” yang bernama milis di tahun 2000. Tetapi, tahun berganti dan teknologi bertambah maju. Sekarang BuMa eksis juga di Facebook, Twitter dan kanal-kanal media sosial lainnya, seperti Youtube, Instagram, G+ dan Tumblr.

Akhirnya banyak anggota BuMa yang hanya aktif di sebagian “kebun” tersebut sehingga sangat mungkin tidak mengenal apalagi akrab dengan anggota yang aktif di tempat lainnya. Dan bicara tentang aktif, setelah 15 tahun berdiri, banyak juga anggota yang dulu lebih sering beredar dibanding sekarang atau baru saja bergabung akhir-akhir ini. Ngobrol secara online saja jarang, apalagi bertemu langsung.

Hal itu sebenarnya bukan masalah, terutama di dalam komunitas yang lahir dan berkegiatan di internet. Hanya saja, kebetulan BuMa juga punya acara pembacaan puisi, alias open mic, yang dulu sempat sangat rutin diadakan tetapi kemudian menjadi semakin jarang…

View original post 190 more words

Sok-sokan Menilik Sastra Dunia Maya :)

Saya sebenarnya sempat ragu untuk menerima tawaran sebagai moderator diskusi ini, tetapi saya akhirnya mengiyakan karena saya pikir, selain saya memang merasa sebagai pelaku sastra yang menggunakan internet, diskusi ini berpotensi besar untuk menjadi sangat menarik. Paling tidak dari judulnya saja kita bisa menghasilkan pembicaraan yang seru. Kalau boleh sedikit curhat, saya sendiri kurang nyaman dengan istilah “sastra dunia maya” karena seringkali dikonotasikan dengan yang “terbuang” dari yang so-called “nyata” dan seolah-olah ia adalah dunia asing yang tabu sehingga untuk berkeliaran di dalamnya kita harus terlebih dahulu melanggar batas yang memisahkannya dari kefamiliaran dan kesucian dunia nyata. Ini juga ‘diperparah’ dengan penggunaan kata “menilik” yang memberikan jarak antara “si nyata” dan “si maya”. Bagi saya ini lucu karena saya justru mulai bersastra di dunia maya, kira-kira 8 tahun yang lalu, sebelum bisa bergaul dengan pelaku-pelaku sastra lain dan akhirnya diminta menjadi moderator pada malam itu. Jadi, kalau menurut saya, apa yang disebut “nyata” sama mayanya dengan apa yang saya lakukan malam ini & apa yang disebut “maya” sama nyatanya dengan apa yang biasa saya lakukan sehari-hari.

Paragraf di atas adalah sebagian dari catatan yang saya siapkan sebagai pemancing diskusi sebelum datang ke Jl. Utan Kayu No. 68H sekitar dua jam lebih awal dari waktu yang telah ditentukan sambil membawa dua botol bir (larutan penyegar cap heineken, kata Jorgy) untuk diminum bersama Mikael. Beberapa hari sebelumnya, ketika Mikael dan saya sibuk mempersiapkan materi diskusi, kami berharap dengan minum sedikit alkohol kami akan lebih sociable, atau tepatnya, lebih santai. Ya, jujur aja, kami sebenarnya gugup setengah mati. Hahaha…

Ini ada beberapa foto yang diculik dari Ney:

diskusi tuk 120308 diskusi tuk 120308 diskusi tuk 120308

Klik ini untuk lihat album lengkapnya.
Klik ini untuk baca tanggapan saya terhadap “kehebohan” yang muncul sehari setelah diskusi diadakan.

Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!

Waktu BuMa jadi penyelenggara sekaligus peserta “Komunitas Maya Bisa Apa?” di Teater Utan Kayu, semua dag dig dug karena ini pertama kali bikin acara di markas komunitas yang jauh lebih senior dan gaungnya sudah ke mana-mana. Crowdnya pasti lebih beragam dengan range yang lebih luas. Strategi penanggulangan chaos dan disorder (which normally was non-existent) harus ditata ulang. Click on thumbnails to see some illustrations of what we accomplished (and several famous faces):

Bersosialisasi

Diskusi TUK

Menyambut pembicara & tamu spesial: Elisa Koraag & (Alm.) Sobron Aidit

Diskusi TUK

Nira (MC), Donni (Project Officer), me, Dino F. Umahuk (Fordisastra), Randu Rini (Cybersastra), Medy Loekito (Penyair), Elisa Koraag (Sastra Pembebasan)

Diskusi TUK

Mendengar dongeng Opa yang sangat lucu (sedih lihat foto ini)

Diskusi TUK

Terima kasih Opa

Diskusi TUK

Photo op

Diskusi TUK

Photo op lagi

Diskusi TUK

Photo op terus

Diskusi TUK

Dinner time!

Diskusi TUK

Persiapan ruang teater

Diskusi TUK

Enthusiastic audience

Diskusi TUK

Photo op colongan

Diskusi TUK

Me, reading

Diskusi TUK

My boyf, totally out there

Diskusi TUK

“Lho, ada apa ini?”

Diskusi TUK

“Kok bisa begini ya?”

Diskusi TUK

“Ada yang bisa menjelaskan?”

Diskusi TUK

“Sini, biar saya yang beresin”

Diskusi TUK

Just another strange pose – yea, we get this all the time

Diskusi TUK

Vandaloetry

Diskusi TUK

Masterpiece #1

Diskusi TUK

Masterpiece #2

Diskusi TUK

(Pictures by Utama Putranto)

Book Discussion: “Pencuri Anggrek” by Susan Orlean

Diskusi yang diadakan Klub Sastra di MP Book Point 24 Agustus 2007 ini mengangkat “Pencuri Anggrek”, yang dalam bahasa aslinya berjudul “The Orchid Thief”, karya Susan Orlean. Sebagai tokoh sentral adalah John Laroche, seorang penjual tanaman yang nyentrik, yang di awal kisah tertangkap bersama tiga orang Indian Seminole ketika sedang mencuri anggrek hantu, sebuah spesies langka di Galur Fakahatchee, Florida. Berita penangkapan tersebut menarik perhatian Susan Orlean, seorang esayis untuk The New Yorker, dan ia pun berangkat ke Florida untuk menemui John. Lewat John dan pergaulannya dengan para pecinta tanaman, Susan lalu belajar begitu banyak hal tentang anggrek, terutama mengenai keterpesonaan manusia terhadap bunga tersebut.

Diskusi “Pencuri Anggrek”

Bagi yang sudah membaca tentu tahu kalau ini bukan fiksi. Namun, buku ini bisa menjadi sangat menawan karena kalimat-kalimatnya indah dan menggugah imajinasi. Pembicara pertama yang bertugas untuk mengupas hal ini adalah Janet Steele, seorang profesor di The George Washington University, Amerika Serikat, yang mengajar narrative journalism dan pernah beberapa kali memberikan kursus tentang jurnalisme naratif di Indonesia. Pembicara kedua adalah seorang penggemar anggrek – bisa jadi seperti John Laroche – yang juga suka mengambil potret anggrek, yaitu Frankie Handoyo. Mengingat “Pencuri Anggrek” telah difilmkan menjadi “Adaptation” yang dibintangi Nicolas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper, pembicara terakhir adalah Mira Lesmana.

Baca liputan “Pencuri Anggrek”.

Last and least, this is me trying to look focused:

Diskusi “Pencuri Anggrek”

:)