CICAK, LEMARI ES, DAN HITUNG-HITUNGAN SATU SAMPAI LIMA (versi “Graffiti Imaji”)

Sa-atu. Du-u-a. Ti-ig-ga.

Tergagap-gagap si cicak menghitung butir-butir anggur yang sedang dirayapinya. Memang ia sedang menghitung dalam hati. Tapi udara yang masuk ke lubang hidungnya dan ke lubang-lubang mikroskopik di sekujur tubuhnya sudah berubah wujud dari partikel gas menjadi bongkahan-bongkahan padat yang bernama es. Di dunia ini rasanya belum ditemukan es yang tidak dingin, dan es yang sedemikian rupa dihirup si cicak mengeluarkan hawa yang begitu menggigit sehingga si hatinya itu pun ikut tersengat. Jadilah ia kini terbata-bata menguraikan setiap helai kata bisu yang diciptakannya.

Em-pha-at. Li-i-mm-a.

Ah. Makin lama makin susah saja baginya untuk main hitung-hitungan. Yah, habis mau bagaimana lagi? Sepertinya hanya permainan itu yang mampu dilakukannya sekarang. Main panjat-panjatan dinding, yang biasanya—yaitu beberapa menit yang lalu, untuk lebih tepatnya—dengan begitu anggun dia pertontonkan di hadapan manusia-manusia yang kebetulan melihat, sudah sama halnya dengan menatap gerhana matahari total dengan mata telanjang. Alias tidak mungkin. Atau, mungkin, dengan konsekuensi yang amat menyakitkan. Yah, sekali lagi, habis mau bagaimana lagi? Si cicak kini sudah hampir beku susunan sarafnya. Begitu juga halnya dengan daya lekat luar biasa yang dimiliki kedua pasang kakinya. Dan buruknya lagi, ia sudah kehilangan panggungnya—si dinding. Detik ini, sang cicak cuma punya segunduk anggur, yang tak akan membuat makhluk manapun di dunia ini terkagum-kagum jika melihat ada makhluk lain yang mampu memanjatnya.

Lii-ma. Li-i-ma.

Lalu apa habis lima? Lupa ia tampaknya. Aduh, cicaak, cicak. Setitik gumpalan sel yang ada di balik tengkorakmu yang rasanya juga punya ketebalan setitik itu pasti sudah diliputi es. Wah, kalau otak sudah kebal, bagaimana ia bisa dipakai untuk mengingat? Taruhan ceban si cicak pasti tidak tahu sekarang dia ada di mana dan bagaimana dia bisa sampai di situ! Kasihan sekali!

Limm-ma-aa.. lii-ma.. lii-..

Dan cicak terdiam.

Ia terdiam. Lama.

Lama sekali.

Entah apa yang dipikirkannya (Oya! Itu jika ia masih bisa berpikir!). Mungkin ia baru sadar kalau selama ini ia berada di dalam suatu ruangan yang gelap. Mungkin ia baru sadar kalau itulah alasan kenapa sedari tadi ia cuma bisa merayap sambil meraba-raba tumpukan buah anggur. Mungkin ia baru sadar kalau dirinya cicak dan cicak tidak seharusnya berada di tempat seperti ini.

Lim-mha-aa. Li-mha.

Misalkan ada yang dapat melihatnya sekarang, ia tak ubahnya mobil yang mogok di tengah malam di sebuah bukit yang sepi tanpa penerangan sedikitpun. Menyedihkan.

Lii-mmh-mmh-a..

Misalkan ada yang dapat melihatnya sekarang, ia tak ubahnya.. eh…

Lima.

Matanya menatap nyalang. Jika si cicak memang mobil, si pemiliknya pasti sudah berhasil dengan ajaib membuat mesinnya kembali berfungsi, kemudian memain-mainkan gasnya, dan menyalakan kedua lampu depannya dengan bangga. Dan kedua lampu itu menyala dengan begitu ganas, merobek tirai gelap yang ada di sekelilingnya. Seperti mata si cicak sekarang.

LIMA!

Ia kini tahu ia berada di dalam sebuah lemari es. Ia kini tahu ia ingin—ia harus—keluar. Walaupun ia masih tidak ingat angka apa yang muncul setelah lima, ia sudah tahu apa yang harus ia ucapkan.

KELUAR!

Tiba-tiba, sinar meliputi tempat si cicak berada. Sinar itu begitu terang, si cicak hampir-hanpir mengira matahari telah jatuh menimpanya. Tapi sebelum sempat ia merasa takut, sebuah wajah berukuran raksasa muncul di hadapannya. Wajah itu tertawa terbahak-bahak.

“Wah! Ma! Ada cicak di lemari es kita..!! Hahaaa.. bego banget, sih!”

Si cicak lalu merasa dirinya terangkat dan dibawa keluar dari si lemari es. Si anggur yang selama ini menemaninya kini terlihat seperti mainan.

BAM!

Pintu si lemari es ditutup oleh si pemilik tawa tadi, yang sampai sekarang masih tertawa-tawa. Ia meletakkan cicak di telapak tangannya yang terbuka di depan dadanya. Samar-samar si cicak melihat ada sesuatu di dada penyelamatnya itu. Sesuatu yang berwarna biru dan berukuran sangat besar.

Angka 6.

Magnet

Jakarta dalam kepalaku adalah papan magnet raksasa. Apa-apa yang ditambahkan atau dihilangkan ditandai dengan lekat atau lepasnya keping-keping magnet pada atau dari papan itu. Dan setiap perubahan yang terjadi terekam tanpa jeda selama bertahun-tahun.

Tapi sore tadi, duduk di jok belakang sebuah taksi, aku sadar bahwa ada yang bermain-main dengan papan magnetku. Aku tahu pasti karena rute yang kulewati adalah rute yang sangat rutin: Cempaka Putih – Kemang, dari rumahku ke sebuah kedai kopi di mana aku dan teman-teman berkumpul setiap minggu untuk membahas semua yang mungkin dibahas. Jadi, aku tak mungkin salah.

Pertama, keping magnet berbentuk gedung bertingkat telah menempel pada sebuah petak di Jalan Pramuka, dekat aku biasa menunggu bis. Warnanya kebiruan. Agak berkilat di bawah matahari sore. Dan kilatannya seperti mengolokku, membuatku ragu akan ingatanku. “Kamu kok yang meletakkanku di sini,” aku seperti mendengarnya bicara. Aku hanya bisa merasa lega ketika ia hilang dari pandanganku.

Yang kedua adalah munculnya keping magnet luar biasa lebar di daerah Kuningan. Sebuah pusat perbelanjaan yang juga diramaikan sejumlah restoran. Walau langit masih cukup terang, lampu-lampunya sudah nyala. Dan aku sungguh tersinggung karena mereka seakan-akan berbisik, “Lho, kok kamu bingung, sayang? Kan kamu sendiri yang melekatkanku di sini.” Segera saja kupalingkan wajahku dari sosoknya yang terasa begitu mengintimidasi.

Kemudian, ketika taksi yang kutumpangi melewati Jalan Bangka dan mendekati tujuanku, aku benar-benar terperanjat. Bagaimana tidak? Ketika aku memberitahu pak supir untuk berhenti di halaman parkir kedai kopi tujuanku, aku mendapati kedai mungil tempat aku dan teman-teman biasa bertukar pikiran mengenai apa saja, segalanya, bahkan apa-apa yang bukan apa-apa itu luar biasa lengang. Ia telah kehilangan sinar hangatnya, bangku-bangkunya serta papan namanya yang biasa dijadikan tempat hinggap seekor cicak. Ya, semua itu tak di sana lagi. Si kedai kopi sudah tutup. Dan jelas benar bukan cuma untuk hari itu.

Mataku seakan beku memandangi ruang kosong tak berlampu di balik pintu dan jendela kaca yang kini buram. Tak ada toples-toples berisi macam-macam jenis kopi. Tak ada mesin pengolah kopi. Tak ada lemari kaca penuh croissant dan roti bertabur coklat.

Cuma ada bekas-kedai-kopi.

Magnet berbentuk kedai kopi kesayangan telah lepas dari papanku. Tanpa kuketahui kapan, bagaimana atau siapa yang melakukannya.

Cuma ada bekas-kedai-kopi.

Apakah teman-teman yang siang tadi begitu sibuk mengirim pesan pendek ke telepon genggamku sebenarnya adalah bekas-teman-teman-yang-siang-tadi-begitu-sibuk-mengirim-pesan-pendek-ke-telepon-genggamku?

Mataku yang tadi beku mulai mencair. Cairannya menggenang ragu. Ragu akan kecairan dirinya. Seperti aku yang mulai ragu akan diriku sendiri karena papanku ternyata bukan Jakarta lagi dan Jakarta bukan papanku lagi sehingga segala ingatan yang kupunya tentang papanku maupun kotaku itu terjungkir dan terbalik. Oh, tidak.

Kemudian telepon genggamku bergetar.

Maaf lupa kasitau – kedai kopi pindah tempat. Jalan terus sedikit lagi, ambil belokan pertama ke kiri, jalan terus sampai kamu lihat papan tempat cicak biasa hinggap itu.

Oh, aku benci perasaan seperti ini! Ketika kau sudah siap untuk remuk karena begitu yakin sesuatu yang buruk telah terjadi tiba-tiba saja kau disadarkan bahwa semua itu hanya miskomunikasi. Bukannya tidak bersyukur ternyata semua tidak seburuk yang kukira tetapi aku jadi merasa dipermainkan.

Rasa-kehilangan-yang-lalu-hilang. Rasa-kehilangan-yang-lalu-hilang-yang-tak-benar-benar-hilang. Aku kan jadi makin yakin kalau memang ada yang bermain-main dengan papan magnetku tanpa sepengetahuanku. Aku tidak suka itu.

Atas instruksi dariku taksi yang kutumpangi lalu meluncur ke lokasi baru kedai kopi. Mudah-mudahan yang baru ini akan lebih abadi dan tidak lekas menjadi bekas-lokasi-baru. Ah, semakin sering saja aku menemukan yang bekas di kota ini. Mungkin tak lama lagi akan ada bekas-Jakarta.

draft pertama, akhir 2005 – awal 2006