keparat

nada nadamu adalah cakaran

 

darah

keringat

air mata

 

tetes demi tetes

menunggu

,

menggantung

di tepian luka

 

 

ada yang berkemas
meninggalkan ruang kosong

mencari ujung pelangi
katanya

tetapi hari tak kunjung
hujan dan ia telanjur berangkat

 

dulu aku bahagia tetapi kau lalu datang

terlalu dini aku bernafas lega katamu

sekarang, kau kembali lagi membawa dendam yang
tertunda

 

 

kata katamu adalah goresan

 

darah

keringat

air mata

 

tetes demi tetes

menunggu

,

menggantung

di tepian dada

 

—draft ketiga dan terakhir, 13juli2005

 

 

16 thoughts on “keparat

  1. hehe.. draft 1 tahun 2003, draft 2 tahun 2004, draft 3 hari ini.
    untuk puisi yang sudah keluar masuk liang kubur beberapa kali selama 2 tahun rasanya kurang pantas disebut masterpiece.

    tapi, edo, makasiiii.. kamu itu yang masterpiece! :D

  2. ha.. tidak sabar rasanya nyelesein disertasi dan jalan2 lagi. kalo gue sih semi-backpacker kali ya. atau a backpacker without a backpack. lifestyle-nya masih menjurus ke turis normal (mandi, harus tidur di tempat tidur, dan belanja suvenir) tapi sebenernya budget-nya backpacker banget. heheh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s