14 days to a trimmer tummy*

if my tummy were bushes
surrounding the garden of your house 

will it really take 14 days for you to trim me?

i’ll say,
you need the exercise

*borrowed from an (old) ad banner on Yahoo!

(in one of our conversations, mikael asked me about a poem i had written, one with “tummy” and “bushes” in it. i was like gosh that piece was like a century old how could he still remember. so i went home, opened my rotting trunk and retrieved this little memento. it was first posted on what was then known as the Pathetic Poets Society, some time before life asked too much of me that i just forgot to log on to the site and they had to terminate my membership. ah.)

song for Ofelia*

tears
bleed like
silver

under
the full moon

light
tips of forest

trees
glow

with golden
shimmer

and fireflies
are fairies

withering like
dreams

when she falls
asleep

deep
in the labyrinth

within
mist of lullabyes

word
less

 

 

*Ofelia is the central character in “Pan’s Labyrinth” (2006), played beautifully by Ivana Baquero. The film is written, produced and directed by Guillermo del Toro.

Komunitas Puisi Maya: Bisa Apa?!

Waktu BuMa jadi penyelenggara sekaligus peserta “Komunitas Maya Bisa Apa?” di Teater Utan Kayu, semua dag dig dug karena ini pertama kali bikin acara di markas komunitas yang jauh lebih senior dan gaungnya sudah ke mana-mana. Crowdnya pasti lebih beragam dengan range yang lebih luas. Strategi penanggulangan chaos dan disorder (which normally was non-existent) harus ditata ulang. Click on thumbnails to see some illustrations of what we accomplished (and several famous faces):

Bersosialisasi

Diskusi TUK

Menyambut pembicara & tamu spesial: Elisa Koraag & (Alm.) Sobron Aidit

Diskusi TUK

Nira (MC), Donni (Project Officer), me, Dino F. Umahuk (Fordisastra), Randu Rini (Cybersastra), Medy Loekito (Penyair), Elisa Koraag (Sastra Pembebasan)

Diskusi TUK

Mendengar dongeng Opa yang sangat lucu (sedih lihat foto ini)

Diskusi TUK

Terima kasih Opa

Diskusi TUK

Photo op

Diskusi TUK

Photo op lagi

Diskusi TUK

Photo op terus

Diskusi TUK

Dinner time!

Diskusi TUK

Persiapan ruang teater

Diskusi TUK

Enthusiastic audience

Diskusi TUK

Photo op colongan

Diskusi TUK

Me, reading

Diskusi TUK

My boyf, totally out there

Diskusi TUK

“Lho, ada apa ini?”

Diskusi TUK

“Kok bisa begini ya?”

Diskusi TUK

“Ada yang bisa menjelaskan?”

Diskusi TUK

“Sini, biar saya yang beresin”

Diskusi TUK

Just another strange pose – yea, we get this all the time

Diskusi TUK

Vandaloetry

Diskusi TUK

Masterpiece #1

Diskusi TUK

Masterpiece #2

Diskusi TUK

(Pictures by Utama Putranto)

Book Discussion: “Pencuri Anggrek” by Susan Orlean

Diskusi yang diadakan Klub Sastra di MP Book Point 24 Agustus 2007 ini mengangkat “Pencuri Anggrek”, yang dalam bahasa aslinya berjudul “The Orchid Thief”, karya Susan Orlean. Sebagai tokoh sentral adalah John Laroche, seorang penjual tanaman yang nyentrik, yang di awal kisah tertangkap bersama tiga orang Indian Seminole ketika sedang mencuri anggrek hantu, sebuah spesies langka di Galur Fakahatchee, Florida. Berita penangkapan tersebut menarik perhatian Susan Orlean, seorang esayis untuk The New Yorker, dan ia pun berangkat ke Florida untuk menemui John. Lewat John dan pergaulannya dengan para pecinta tanaman, Susan lalu belajar begitu banyak hal tentang anggrek, terutama mengenai keterpesonaan manusia terhadap bunga tersebut.

Diskusi “Pencuri Anggrek”

Bagi yang sudah membaca tentu tahu kalau ini bukan fiksi. Namun, buku ini bisa menjadi sangat menawan karena kalimat-kalimatnya indah dan menggugah imajinasi. Pembicara pertama yang bertugas untuk mengupas hal ini adalah Janet Steele, seorang profesor di The George Washington University, Amerika Serikat, yang mengajar narrative journalism dan pernah beberapa kali memberikan kursus tentang jurnalisme naratif di Indonesia. Pembicara kedua adalah seorang penggemar anggrek – bisa jadi seperti John Laroche – yang juga suka mengambil potret anggrek, yaitu Frankie Handoyo. Mengingat “Pencuri Anggrek” telah difilmkan menjadi “Adaptation” yang dibintangi Nicolas Cage, Meryl Streep dan Chris Cooper, pembicara terakhir adalah Mira Lesmana.

Baca liputan “Pencuri Anggrek”.

Last and least, this is me trying to look focused:

Diskusi “Pencuri Anggrek”

:)

CICAK, LEMARI ES, DAN HITUNG-HITUNGAN SATU SAMPAI LIMA (versi “Graffiti Imaji”)

Sa-atu. Du-u-a. Ti-ig-ga.

Tergagap-gagap si cicak menghitung butir-butir anggur yang sedang dirayapinya. Memang ia sedang menghitung dalam hati. Tapi udara yang masuk ke lubang hidungnya dan ke lubang-lubang mikroskopik di sekujur tubuhnya sudah berubah wujud dari partikel gas menjadi bongkahan-bongkahan padat yang bernama es. Di dunia ini rasanya belum ditemukan es yang tidak dingin, dan es yang sedemikian rupa dihirup si cicak mengeluarkan hawa yang begitu menggigit sehingga si hatinya itu pun ikut tersengat. Jadilah ia kini terbata-bata menguraikan setiap helai kata bisu yang diciptakannya.

Em-pha-at. Li-i-mm-a.

Ah. Makin lama makin susah saja baginya untuk main hitung-hitungan. Yah, habis mau bagaimana lagi? Sepertinya hanya permainan itu yang mampu dilakukannya sekarang. Main panjat-panjatan dinding, yang biasanya—yaitu beberapa menit yang lalu, untuk lebih tepatnya—dengan begitu anggun dia pertontonkan di hadapan manusia-manusia yang kebetulan melihat, sudah sama halnya dengan menatap gerhana matahari total dengan mata telanjang. Alias tidak mungkin. Atau, mungkin, dengan konsekuensi yang amat menyakitkan. Yah, sekali lagi, habis mau bagaimana lagi? Si cicak kini sudah hampir beku susunan sarafnya. Begitu juga halnya dengan daya lekat luar biasa yang dimiliki kedua pasang kakinya. Dan buruknya lagi, ia sudah kehilangan panggungnya—si dinding. Detik ini, sang cicak cuma punya segunduk anggur, yang tak akan membuat makhluk manapun di dunia ini terkagum-kagum jika melihat ada makhluk lain yang mampu memanjatnya.

Lii-ma. Li-i-ma.

Lalu apa habis lima? Lupa ia tampaknya. Aduh, cicaak, cicak. Setitik gumpalan sel yang ada di balik tengkorakmu yang rasanya juga punya ketebalan setitik itu pasti sudah diliputi es. Wah, kalau otak sudah kebal, bagaimana ia bisa dipakai untuk mengingat? Taruhan ceban si cicak pasti tidak tahu sekarang dia ada di mana dan bagaimana dia bisa sampai di situ! Kasihan sekali!

Limm-ma-aa.. lii-ma.. lii-..

Dan cicak terdiam.

Ia terdiam. Lama.

Lama sekali.

Entah apa yang dipikirkannya (Oya! Itu jika ia masih bisa berpikir!). Mungkin ia baru sadar kalau selama ini ia berada di dalam suatu ruangan yang gelap. Mungkin ia baru sadar kalau itulah alasan kenapa sedari tadi ia cuma bisa merayap sambil meraba-raba tumpukan buah anggur. Mungkin ia baru sadar kalau dirinya cicak dan cicak tidak seharusnya berada di tempat seperti ini.

Lim-mha-aa. Li-mha.

Misalkan ada yang dapat melihatnya sekarang, ia tak ubahnya mobil yang mogok di tengah malam di sebuah bukit yang sepi tanpa penerangan sedikitpun. Menyedihkan.

Lii-mmh-mmh-a..

Misalkan ada yang dapat melihatnya sekarang, ia tak ubahnya.. eh…

Lima.

Matanya menatap nyalang. Jika si cicak memang mobil, si pemiliknya pasti sudah berhasil dengan ajaib membuat mesinnya kembali berfungsi, kemudian memain-mainkan gasnya, dan menyalakan kedua lampu depannya dengan bangga. Dan kedua lampu itu menyala dengan begitu ganas, merobek tirai gelap yang ada di sekelilingnya. Seperti mata si cicak sekarang.

LIMA!

Ia kini tahu ia berada di dalam sebuah lemari es. Ia kini tahu ia ingin—ia harus—keluar. Walaupun ia masih tidak ingat angka apa yang muncul setelah lima, ia sudah tahu apa yang harus ia ucapkan.

KELUAR!

Tiba-tiba, sinar meliputi tempat si cicak berada. Sinar itu begitu terang, si cicak hampir-hanpir mengira matahari telah jatuh menimpanya. Tapi sebelum sempat ia merasa takut, sebuah wajah berukuran raksasa muncul di hadapannya. Wajah itu tertawa terbahak-bahak.

“Wah! Ma! Ada cicak di lemari es kita..!! Hahaaa.. bego banget, sih!”

Si cicak lalu merasa dirinya terangkat dan dibawa keluar dari si lemari es. Si anggur yang selama ini menemaninya kini terlihat seperti mainan.

BAM!

Pintu si lemari es ditutup oleh si pemilik tawa tadi, yang sampai sekarang masih tertawa-tawa. Ia meletakkan cicak di telapak tangannya yang terbuka di depan dadanya. Samar-samar si cicak melihat ada sesuatu di dada penyelamatnya itu. Sesuatu yang berwarna biru dan berukuran sangat besar.

Angka 6.