hujan bertalu-talu di jendela,
seperti rindu yang memaksa masuk.
tapi aku tak peduli.
hatiku selesma.
(lebih baik meringkuk di balik selimut)
my writings and other illusions
hujan bertalu-talu di jendela,
seperti rindu yang memaksa masuk.
tapi aku tak peduli.
hatiku selesma.
(lebih baik meringkuk di balik selimut)
kubuka kulkas
kuraih sebotol cinta
ketika kubuka
kudapati ia kadaluwarsa
padahal sudah sedari tadi
ingin kutenggak, oh, cinta
—4februari2006
biarkan aku memerahmu
dari hatiku yang merah
kan kutangkap
kau
menetes ke dalam mulutku kau
kuteguk habis kucecap kau
manis
jatuhmu
adalah dosaku
semerah
apelranum
adam dan hawa
usirlah aku
keluar firdaus
aku
tak
akan
peduli
kau pernah milikku
walau sejenak
—diterjemahkan 1april2006
dalam mimpi aku bermimpi tentang masa depan. aku melihat jakarta diserang hujan lebat dan badai yang luar biasa. langitnya membiru, begitu legam. awannya tak lagi tembus pandang, menjelma raksasa penyebar takut. dan mereka membayangi sepasang pencakar langit berdinding kaca yang pada posisinya yang terancam justru memantulkan semesta biru di atas mereka. tak berdaya ikut menyiarkan kabar kelam kepada sekumpulan manusia, termasuk aku, yang gemetar di bawah mereka.
rambutku masai dikacau angin dan aku hampir kehilangan kuasa atas keseimbangan tubuhku. namun aku tetap pada tempatku berdiri. menatap langit dan awan yang segera menerkam gedung kembar yang rupanya sudah terlalu mirip opresor mereka. di tengah-tengah segala yang biru itu aku merasa seperti berada di dasar laut. mati tenggelam tetapi tetap mampu merasa pengapnya.
lalu dalam mimpiku aku bermimpi bahwa aku melesat ke dalam mobil keluargaku. ada ayahku, kakakku perempuan beserta suami dan anaknya laki-laki. kami sedang melaju menghindari angin.
hujan turun begitu
sembrono:
sore ini, hampir setengah
enam
tumpah begitu saja
seperti air dari gelas
yang tersikut lengan
mengguyur catatan harian
tentang senja yang tak
kunjung terbenam
sore ini, hampir setengah
enam
hujan turun begitu sembrono:
kuyup aku, cari horison di
penghujung angan