cinta dalam botol

kubuka kulkas

kuraih sebotol cinta

ketika kubuka

kudapati ia kadaluwarsa

 

padahal sudah sedari tadi
ingin kutenggak, oh, cinta

 

—4februari2006

28 thoughts on “cinta dalam botol

  1. cairan kadaluwarsa biasanya kan mengeluarkan bau menyengat atau berubah warna. saya pikir, saking hausnya si “aku”, ia nggak kepikiran untuk ngecek tanggal yang biasanya tertera pada label atau dasar botol dan langsung pingin minum aja. (sebenernya ada juga kan tanggal kadaluwarsa yang tertera pada tutup botol. tapi kalau dalam logika puisi ini kayaknya nggak sesuai.) baru nyadar waktu nyium bau nggak enak atau ngeliat tampang si minuman udah nggak jelas. dan mungkin setelah itu si “aku” baru nyari tanggalnya untuk memastikan lagi.

    ya, pengalaman seseorang untuk mengetahui sesuatu itu seringkali berbeda dengan pengalaman orang lain. padahal pengetahuannya sih sama saja.

  2. seringkali kesadaran kalau ia tersimpan di lemari es sudah cukup untuk membuatku merasa tenang. kalau ia lalu kadaluwarsa, akan kubeli lagi sebotol yang baru. mudah-mudahan kali itu aku tak lupa mencicipinya sebelum terlambat.

    tapi, aku senang sekali belanja di supermarket.

  3. Gue beberapa kali beli minuman yg ternyata sudah basi, padahal belum lewat expiration date. Mungkin refrigeration nya ngga bener. Mungkin transportation nya ngga baik.. Mungkin terkontaminasi bakteri X… Kita kadang sulit untuk tahu

    So sometimes when you think you're getting something fresh, tapi ternyata sudah jadi damaged goods, walau masuk kategori FMCG yang seharusnya ngga nongkrong berlama-lama di shelf. Yah…. Paling ideal sich kalo bisa icip-icip dulu…

  4. ;)…nggak mau nyoba ke pasar tradisional?! walo lebih urban dan down to earth tapi lebih real & orisinil serta fresh tiada tara…setidaknya jujur..kalo boleh saya bilang…

    ayo dong buat puisi yg senang…jgn gloomy terus!

  5. Sori, gua sok tau. Tapi, rasanya ada janggal dalam puisi ini. Utamanya, ini yang gua rasa ye…., di bait akhir. Kutipannye….: padahal sudah sedari tadi ingin kutenggak, oh, cinta.

    Rasanya, ada yang janggal. Kejanggalan itu, gua rasa muncul karena kata 'kutenggak'. Soalnya (lu harus ingat, dalam hal ini gua sok tahu banget masalah yang pada dasarnya tidak gua ketahui dengan banget gitu lho) lantunan dari tiap baris tidak memungkinkan munculnya kata 'tenggak'. Soalnya, kalo menurut gua, kata 'tenggak' itu lebih baik muncul dalam suasana yang lebih 'menggelegar'. Jadi, tampaknya ini ada hubungannya dengan pribadi, kosa kata pribadi (cie…., gua sok tahu yang kebangetan). 'Tenggak' itu, bagi gua rasanya lebih 'wild' 'liar'. Kata itu, menurut gua, beda rasanya dengan 'teguk'. Jadi, gua pikir, ada sesuatu keliaran di dalam produser puisi ini.
    Tapi, mantap juga!

    Teng-q

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s