galaksi baru

di meja makan datang pikiran mungkin memang ini saatnya mencari galaksi baru. sup kacang merah terlihat seperti debu-debu kosmis dan dapur yang remang-remang membuat rindu pada cahaya yang pecah jadi pelangi. lalu kita berbicara tentang losmen kedasih dan tukang kaca mata keliling. tentang respek dan milkshake. sampai akhirnya, tentang renovasi rumah yang belum kunjung dimulai. diam-diam ada yang memeluk kakiku seperti arwah yang enggan terbang. sampai ke mana petualangan akan membawa dirimu. ke ruang tamu yang layak masuk majalah, di mana keluarga dan kawan-kawanmu minum teh dan makan kue coklat, atau sebuah planet asing yang udaranya menjanjikan sejarah penuh kemenangan bagi umat manusia, atau hanya sebuah tempat, di mana pun itu asal tidak di sini, di mana kau bisa mati. lebih berarti mungkin, tapi tetap mati. karena ketika kecoak terakhir terguling kaku, tidak ada lagi yang makan sup kacang merah. dan debu-debu kosmis tetap melayang-layang di luar sana seakan-akan tidak pernah ada yang meninggalkan bumi. 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

hujan dan burung kertas

hujan turun lagi malam ini. asap yang keluar dari mulutku tak pergi jauh. mengerubungi kepala seperti burung-burung kertas. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan memetik gitar di seberang jalan tapi suaranya tak sampai ke sini. motor dan mobil berkejaran di atas aspal yang mulai bolong-bolong. menciptakan bayang-bayang yang berkelebat di antara deretan ruko dan gerobak-gerobak penjual buah di pinggir jalan. di sini, di bawah lampu jalan dan papan iklan, kesedihan tak sempat lagi ditangisi. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan menyalakan rokoknya. ini segelas kopi hitam, kata sebuah suara entah dari kepala siapa. tak lama lagi, hujan dan burung kertas akan jadi abu yang berserakan di permukaan konblok.

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

sakit gigi

mencoba mencari puisi di antara sakit gigi mungkin seperti menyelam tapi tidak mau basah. main-main dulu di pantai, mengumpulkan kerang, membangun istana pasir. lalu menyewa perahu layar ke tengah lautan dan memandangi air laut yang seperti agar-agar, mencoba menahan dorongan ingin terjun ke dalamnya. karena pasti fatal akibatnya kalau aku hanya tahu bagaimana terlihat menarik di dalam bikini kuning mustard, bukan pakaian selam. terombang-ambing dalam kesendirian seperti ini saja sudah cukup cantik. aku tidak perlu lagi kesunyian yang lebih dalam dan koral-koral menawan di bawah sana. ah ya, lain kali aku akan menyewa kapal selam saja. siapa bilang menyelam harus basah. lagipula puisi tidak pernah ada di balik sakit gigi. ada-ada saja.

 

“A poem should not mean
But be”
– Archibald MacLeish

 

– pertama kali diterbitkan di sini