hujan dan burung kertas

hujan turun lagi malam ini. asap yang keluar dari mulutku tak pergi jauh. mengerubungi kepala seperti burung-burung kertas. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan memetik gitar di seberang jalan tapi suaranya tak sampai ke sini. motor dan mobil berkejaran di atas aspal yang mulai bolong-bolong. menciptakan bayang-bayang yang berkelebat di antara deretan ruko dan gerobak-gerobak penjual buah di pinggir jalan. di sini, di bawah lampu jalan dan papan iklan, kesedihan tak sempat lagi ditangisi. seorang laki-laki yang memakai baju perempuan menyalakan rokoknya. ini segelas kopi hitam, kata sebuah suara entah dari kepala siapa. tak lama lagi, hujan dan burung kertas akan jadi abu yang berserakan di permukaan konblok.

 

 

dimuat di Selatan Musim Hujan 2015

sakit gigi

mencoba mencari puisi di antara sakit gigi mungkin seperti menyelam tapi tidak mau basah. main-main dulu di pantai, mengumpulkan kerang, membangun istana pasir. lalu menyewa perahu layar ke tengah lautan dan memandangi air laut yang seperti agar-agar, mencoba menahan dorongan ingin terjun ke dalamnya. karena pasti fatal akibatnya kalau aku hanya tahu bagaimana terlihat menarik di dalam bikini kuning mustard, bukan pakaian selam. terombang-ambing dalam kesendirian seperti ini saja sudah cukup cantik. aku tidak perlu lagi kesunyian yang lebih dalam dan koral-koral menawan di bawah sana. ah ya, lain kali aku akan menyewa kapal selam saja. siapa bilang menyelam harus basah. lagipula puisi tidak pernah ada di balik sakit gigi. ada-ada saja.

 

“A poem should not mean
But be”
– Archibald MacLeish

 

– pertama kali diterbitkan di sini

tick tock

father’s bed is made, but no one has changed his bed sheet since he died in his sleep almost two weeks ago.

there are two clocks in this room. they had been souvenirs from two different banks. and both of them let out incessant tick-tocking sounds,

which must have been the last sounds he had heard.

_

i put my hand on his pillow, sit on the bed and then lie down. i immediately realize that almost everything that can be seen from this position is still the same with what i had seen when i was still a child sleeping on this bed between my mother and father.

_

i get up and look at his things, scattered around his bed. never worn shirts and ties, still in their packaging. bed sheets, some old some new. house clothes, washed and folded. coins, in small plastic containers on his dressing table labeled Rp 25,- Rp 50,- Rp 100,- in his handwriting. and even more coins that he had yet organized, coins that have now been withdrawn from circulation.

_

no one was allowed in this room when he was still alive. except for my daughter.