keparat

nada nadamu adalah cakaran

 

darah

keringat

air mata

 

tetes demi tetes

menunggu

,

menggantung

di tepian luka

 

 

ada yang berkemas
meninggalkan ruang kosong

mencari ujung pelangi
katanya

tetapi hari tak kunjung
hujan dan ia telanjur berangkat

 

dulu aku bahagia tetapi kau lalu datang

terlalu dini aku bernafas lega katamu

sekarang, kau kembali lagi membawa dendam yang
tertunda

 

 

kata katamu adalah goresan

 

darah

keringat

air mata

 

tetes demi tetes

menunggu

,

menggantung

di tepian dada

 

—draft ketiga dan terakhir, 13juli2005

 

 

garis/tangan

garis/tangan/garis/garis

aku/garis/garis/tangan/dengan/beling/beling/kaca

 

garis/garis/tangan/kau/kenapa

selalu/minta/kugaris/garis

 

gariskan/garis/garis

pada/tangan/tangan/lain

 

tapi/terus/tangan/garis/garis/tangan

tanganku/tak/mau/tangan/lain

 

garis/garis/tangan

sungguh/garis/garis/keterlaluan

 

dan/beling/beling/kaca/terus/garis/garis/nasib

 

 

ke/ter/la/lu/an

 

 

—24desember2003

“i may live life the hard way – but that’s  exactly why i’m living it to the fullest.”

rindu hujan


tetes


tetes


air


meluncur


di permukaan jendela kamarku


membuatku


berpikir


apakah


aku


sedang


melihat


hujan


ataukah air yang memang meluncur dari mataku

mengaburkan bunga bunga poppy burung burung gagak dan bukit penuh pohon yang baru saja menghijau

aku

lalu

berkata

pada diriku:

kamu

hanya


rindu


hujan


yang jatuh di tempat kelahiranmu