aku adalah masa kecilmu
bermainmain di lekuk
ingatan, meloncatloncat
seperti percik kembangapi
yang gagangnya terimpit dalam lipatan jarijari
—masih harumsabunbayi
aku adalah detikdetik yang
berlalu
menghitung kecemasan
di sudutsudut dada:
nafas yang diusahakan tak
terdengar justru menggema, jadi gempa yang sunyi
—entah bagaimana harus
diredam, apalagi dihindari
aku adalah harihari esok
bernyanyi di pelupuk mata
“kemari! ayo, kemari!”
dan menjawab ajakannya,
kau tersenyum juga menangis, bersamaan lalu bergantian
:begitumembingungkanbegitumenggodabegitumengerikan
aku adalah
mimpimimpimu—terburuk
dari yang pernah
menghantuimu, lalu
menjadi kenyataan
menjadi kenyataan
15juli2005
puisi untuk diriku sendiri
*gara-gara ngomongin kembang api sama mr indra ameng, jadi inget gue
ada puisi yang juga pake kembang api di dalamnya. draft pertama ditulis
persis tahun lalu. dan pas dibuka lagi tadi, ada bagian-bagian yang gue
tulis ulang. mungkin kalau dibuka lagi tahun depan, ada yang dirubah
lagi. hm.*