ihik
saya baru saja membuat nyawa seekor cecurut melayang. sehabis makan siang, ketika beranjak dari kursi, saya merasa kaki kiri saya menginjak sebuah benda kecil yang kenyal hingga agak tergelincir. lalu saya menapak mundur untuk melihat benda itu. ia tengkurap tak bergerak di permukaan lantai – makhluk mungil berbulu abu-abu yang bagian lehernya membuntal, jelas karena terpelintir.
ihik
ia lalu disapu pembantu saya dan dibawa keluar rumah. saya dapat mendengar dengan jelas teriakan cecurut-cecurut yang menghuni pojok-pojok halaman. saya bayangkan mereka akan segera membentuk barisan untuk menyerbu pembunuh kamerad mereka. segera saya berlari masuk kamar, bergidik.
ihik
kaki kiri saya terasa aneh. seperti semutan. seperti gatal.
ihik
saya pembunuh berdarah dingin.

