bunga-bunga kecil
berjatuhan
seperti malaikat-
malaikat mini
turun
dari
langit
my writings and other illusions
bunga-bunga kecil
berjatuhan
seperti malaikat-
malaikat mini
turun
dari
langit
ada yang
rapi terbungkus
di dalam kardus
bertuliskan namaku
berdiri seperti tugu miniatur
berpendar oleh rahasia
yang sayangnya
sudah kuketahui
tetapi aku tetap ingin
membukanya seolah ini hari natal
dan ia hadiah di bawah pohon
dari seseorang yang baru kukenal
sehingga ketika selotipnya kutarik,
selapis demi selapis,
ada perasaan,
yang sering disalahartikan
sebagai kesenangan,
bukan malah
mengulang mundur gerakan yang kulakukan
beberapa minggu dan beberapa ribu mil yang lalu
1
rokok telah menjadi puntung. ujungnya meninggalkan kerlip. seperti lampu yang tertangkap bola matamu. sementara vokalis band yang setengah mabuk tak jera berharap bisa mengulang keberhasilan bob marley. padahal penonton tak terlalu peduli selama gelas mereka tetap penuh.
2
untungnya kamar kecil masih sepi. belum anyir dengan bau muntah. sehingga masih ada cukup ruang untuk sepotong cerita. tentang lelaki yang kemarin menciummu. tanpa alasan.
3
cermin selalu mengulang kebenaran yang menyakitkan. tak heran tempat seperti ini selalu temaram. yah, setidaknya untuk sementara kenyataan sesuai harapan. keragu-raguan boleh pulang lebih dulu. sikat gigi dan cuci kaki. seperti anak yang dengar-dengaran.
4
bisikmu masih meninggalkan gaduh, sayang.
5
dan malam terus menawarkan pilihan. yang satu pasti lebih menyenangkan dari yang lain. tubuh-tubuh harum dan mulut-mulut beraroma bir selalu haus petualangan baru. karena semua ini soal gairah. dan gairah juga soal pilihan.
6
andaikan ini serial anak-anak kegemaranmu. setiap akhir bisa dikunjungi tanpa sesal. keingintahuan begitu mudah terpenuhi. semudah membalikkan kertas. kalaupun harus mati, itu hanya untuk sementara. setelah itu beli lagi buku terbaru.
7
gelas-gelas masih menggantung di atas bar. band malam ini mungkin masih sibuk memilih kacamata hitam yang akan melindungi mereka dari wajah-wajah jenuh penonton. matamu pun masih rapat tertutup. bersiap untuk kilap dalam gelap. dan rokok belum menjadi puntung.
8
ke mana kita malam ini?
(ditulis & dikirim ke milis BungaMatahari pada) 21 juni 2007
Diletakkan juga di sini karena sepertinya sesuai dengan 2 puisi terakhir dan sebagai semacam ode kepada sebuah tempat yang belakangan ini sering saya kunjungi, terakhir Jumat malam yang lalu bersama MJ, OKS, WHR, juga kawan PNG, R dan M.
*Pilih Sendiri Petualanganmu adalah serangkaian buku anak-anak yang pertama diterbitkan oleh Bantam Books dari 1979 sampai 1998 dan sekarang diterbitkan oleh Chooseco. Seri ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Gramedia. Setiap cerita menggunakan sudut pandang orang kedua, dengan pembaca sebagai tokoh utama. Setelah halaman perkenalan, pembaca diberi pilihan bagaimana cerita tersebut akan berlanjut. Bergantung pada pilihan mana yang diambil pembaca, ia akan mengikuti alur cerita yang berbeda, dan dapat berakhir pada keberhasilan, kegagalan, atau akhir lainnya. (Keterangan ini diambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Pilih_Sendiri_Petualanganmu)
Gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik mengelilingiku,
mengajukan teka-teki
tentang hidup dan mati
tentang harapan dan keinginan
tentang kau dan aku.
Seorang pelayan berseragam merah tiba-tiba berdiri di sampingku,
tersenyum manis, menyamarkan seringai dan taring tajam, siap mencatat jawabanku—
menjadikannya hitam (atau biru, atau merah, atau entah) di atas putih
menjadikannya nyata
menjadikannya tak terbantah.
Di belakangnya, di dalam dapur bergaya terbuka,
koki dengan saputangan sebagai penutup kepala menunggu tanpa ekspresi
sementara uap mengepul-ngepul seperti penampakan roh ubur-ubur yang telah martir di dalam panci-panci aluminium.
Segala peralatan masak berdentang, berdentum,
seakan mengingatkan bahwa waktu terus berdenyut dan
tak banyak yang tersisa untukku.
Hati-hati kulihat mereka di meja sebelah: sepasang kekasih.
Yang perempuan sepertinya kurang enak badan. Ia menyantap makanan orang sakit—sepiring nasi dan semangkuk sayuran berkuah hangat. Yang lelaki hanya memesan minum, menjadi sukarelawan mengelus dan memijat punggung si perempuan,
sambil melirik ke arahku dan mengedipkan mata kirinya.
Segera kualihkan pandang ke mereka di meja yang lain: seorang ibu dan anak perempuannya.
Sepertinya mereka terlalu larut dalam pembicaraan daripada menghabiskan makanan. Si Ibu bercerita panjang lebar tentang hidupnya, “Yah, pada akhirnya, aku menjadi seperti sekarang ini. Sibuk mengurusi cucu. Tapi aku bahagia.” Tawanya berderai di bawah sorot mata yang kerutnya sudah bertumpuk-tumpuk. Si Anak tersenyum lalu mengangguk, entah karena tercerahkan oleh perkataan ibunya atau memang memilih untuk menurut saja karena sudah terlampau mengenali perempuan itu.
Hampir berbarengan mereka memanggil pelayan, memintanya untuk membungkuskan makanan yang tidak habis sekaligus meminta bon.
Kemudian kuperhatikan mereka yang membereskan meja yang baru ditinggalkan: pelayan lelaki dan perempuan.
Yang pertama mengelap permukaan meja dan berkata, “Sekali-kali ke rumah gue, dong.”
Yang satunya menyapu lantai dan berkata, “Emang rumah lo di mane?”
“Lah pan deketan sama rumah si Eni, di daerah Plumpang. Tapi sonoan dikit lagi.”
“Ah, palingan lo-nye juge kage ade.”
Pekerjaan mereka hampir rampung. Tangan-tangan mereka sungguh cekatan sehingga melihat mulut-mulut mereka lancar bertukar kata di waktu yang sama adalah pengalaman yang menakjubkan.
“Pan bisa telpon dulu. Jadi pas lo dateng gue pasti ade.” Mereka berlalu sambil membawa lap dan sapu.
“Iye.. iye.” Meja dan lantai di bawahnya berkilap-kilap.
Tiba-tiba pelayan yang sedari tadi berdiri di sampingku berbicara,
“Apakah Mbak sudah mempunyai jawaban?”
Oh! pikirku
Sudahkah aku?
Oh! lihat
Ia tersenyum lebih manis dari sebelumnya.
Dan aku bisa melihat taringnya.
Apa yang bisa kukatakan tentang kita?
Apakah ada jawaban yang salah atau benar?
Apakah, kalau jawabanku salah,
aku akan bernasib seperti ubur-ubur di dapur tadi kemudian menjelma kepulan asap di dapurmu?
Apakah, kalau jawabanku sekarang benar,
aku tak akan disodori teka-teki yang lain lagi?
Kulihat jendela di sampingku,
jendela yang bertempelkan gambar beragam hidangan mie dan nasi, minuman aneka warna, juga hidangan penutup yang selalu cantik.
Di baliknya,
kulihat kau bergerak luar biasa lambat di antara mereka yang berlesatan seolah manusia-manusia super, dan kau
se
ma
kin
jauh
sehingga walaupun kau menoleh,
kau tak akan mampu melihatku,
apalagi mataku yang tergenang
karena aku terjebak di balik telur mata sapi, kecambah, butir-butir nasi dan irisan cabai merah.
9 agustus 2006, diperbaiki 29 september 2007
Ditulis di sebuah restoran cepat saji, di mejanya yang paling pojok, sambil sesekali menatap dari balik jendela yang ditempeli gambar nasi goreng tembus pandang puluhan orang lalu lalang, turun naik eskalator dan keluar masuk toko. Semua tokoh nyata pada saat itu begitu juga sebagian besar dialog, terutama antara pelayan-pelayan yang membersihkan meja. Namun, imajinasi tetap mengambil peran terbesar dalam proses penulisan sesuatu yang mungkin bisa disebut puisi ini.
hujan bertalu-talu di jendela,
seperti rindu yang memaksa masuk.
tapi aku tak peduli.
hatiku selesma.
(lebih baik meringkuk di balik selimut)