rahasiarahasia
berhamburan di tengah malam
di antara desah keringat dan derak tempat tidur
rahasiarahasia
adalah celanadalam televisi yang menyala dalam gelap dan jendela
yang setengah tertutup
mengendap jadi debu
di dalam lemari
my writings and other illusions
rahasiarahasia
berhamburan di tengah malam
di antara desah keringat dan derak tempat tidur
rahasiarahasia
adalah celanadalam televisi yang menyala dalam gelap dan jendela
yang setengah tertutup
mengendap jadi debu
di dalam lemari
seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu kau gigit bibirmu sendiri
hari ini matahariku terik, sayang. begitu terik sehingga hujan pun tak
mampu mengusirnya ke balik awan. kulihat rintik-rintiknya menari di
balik jendela dapurku, berkilauan di bawah langit biru. sementara di
balik jendela ruang makan, pelangi membentang gagah. membuat
tetangga-tetanggaku berteriak kegirangan sambil mengeluarkan kamera.
tetapi aku,
aku
duduk diam menghadapi sepiring nasi berlauk daging sapi yang ceria
ditemani paprika merah hijau dan biji-biji tauco. aku rasa aku sudah
terlalu kenyang. kenyang karena menelan bulat-bulat rentetan kata yang
dulu sering kucerna; bukan karena aku mau, tapi karena aku ternyata
telah berbincang dengan orang-orang yang salah. ah, berita jaman dulu
yang dengan begitu ajaib menemukan jalannya untuk termuat di koran hari
ini. pikirku,
persetan
dengan semua itu. memang, tidak ada yang baru di bawah matahari. juga
pelangi. karena hujan selalu turun, tak peduli apakah hari terik atau
tidak. hujan orang mati, katanya. ya, orang-orang memang harus mati satu
per satu. bedanya, ada yang ditangisi ada yang tidak. ah,
apa hubungannya dengan makananku?
maaf, aku tak mau lagi menghabiskannya. lidahku bilang, semua sudah
basi. dan yang basi harus masuk tempat sampah. bersama koran yang
melulu mendramatisasi kisah hidup para penggede dunia sampai-sampai
yang membaca bisa lupa kalau yang seperti itu juga bisa ditemukan di
rumah sebelah, atau malahan di kepalanya sendiri. atau parahnya lagi,
terlalu sering melahap yang basi juga bisa membuat orang lupa untuk
membuangnya. akhirnya, merasa sama dengan penggede-penggede itu dan pantas jadi berita. berita basi. ha ha
ha. dan orang-orang sepertiku terpaksa kembali lagi makan makanan basi.
ha ha ha. aku memang harus diet dan berhenti langganan koran.
seperti berdendang
mengikuti nada-nada klise sebuah lagu pop yang terlalu populer
lalu pingsan
tak menjejak
tapi nyata
tanya curiga dan prasangka
mengabur jadi keyakinan
apa yang kau cari, kawan?
apa yang kau mau, kawan?
kata kata klise
berjejer di kepala
menjadi norma
di pelupuk mata,
rajin menemani
ketika kau bangun
atau tertidur
lalu kau pikir
dirimu telah begitu kesetanan
hingga mustahil terselamatkan
apa yang kau cari, kawan
apa yang kau mau, kawan
tak menjejak
tapi nyata
(tak tahukah kau –
aku sudah lama merdeka)
7lc, 17 agustus 2005
ditulis segera setelah membaca puisi karangan uga yang berjudul “kita”
aku adalah masa kecilmu
bermainmain di lekuk
ingatan, meloncatloncat
seperti percik kembangapi
yang gagangnya terimpit dalam lipatan jarijari
—masih harumsabunbayi
aku adalah detikdetik yang
berlalu
menghitung kecemasan
di sudutsudut dada:
nafas yang diusahakan tak
terdengar justru menggema, jadi gempa yang sunyi
—entah bagaimana harus
diredam, apalagi dihindari
aku adalah harihari esok
bernyanyi di pelupuk mata
“kemari! ayo, kemari!”
dan menjawab ajakannya,
kau tersenyum juga menangis, bersamaan lalu bergantian
:begitumembingungkanbegitumenggodabegitumengerikan
aku adalah
mimpimimpimu—terburuk
dari yang pernah
menghantuimu, lalu
menjadi kenyataan
menjadi kenyataan
15juli2005
puisi untuk diriku sendiri
*gara-gara ngomongin kembang api sama mr indra ameng, jadi inget gue
ada puisi yang juga pake kembang api di dalamnya. draft pertama ditulis
persis tahun lalu. dan pas dibuka lagi tadi, ada bagian-bagian yang gue
tulis ulang. mungkin kalau dibuka lagi tahun depan, ada yang dirubah
lagi. hm.*
katakata
terbentuk di antara liarliar kepalaku
—berlesatan
berkembangapi
berkilatan
berpendarpendar—
katakata
yang tak kenal
satu sama lain
katakata yang lahir sendirisendiri
katakata yang asing
katakata yang ketakutan
katakata itu pun tanpa
arti
berjingkrakan
berpencar
tak menjadi
katakata itu pun tanpa
maksud
berkeriapan
bergetar
lalu mati
menjelma
hantuhantu
—6januari2004
puisi lama. tapi masa lalu adalah bayangan hari ini. dan ada rasa yang selalu berulang.